Kendari – Universitas Mandala Waluya, khususnya Fakultas Sosiologi, menggelar Festival Olahraga dan Seni Budaya yang meriah pada akhir pekan lalu. Acara yang berlangsung selama tiga hari penuh ini menampilkan beragam pertandingan olahraga, pertunjukan seni tradisional, dan pameran budaya lokal yang memukau. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda tahunan terbesar yang melibatkan seluruh mahasiswa, dosen, dan karyawan kampus dalam merayakan semangat kebersamaan dan apresiasi terhadap nilai-nilai lokal.
Festival yang mengambil tema “Sosiologi Bergerak: Membangun Karakter Melalui Olahraga dan Seni” ini dihadiri oleh lebih dari 800 peserta yang terdiri dari mahasiswa aktif, alumni, dan masyarakat luas. Berbeda dengan acara-acara kampus sebelumnya, kali ini Fakultas Sosiologi menekankan pentingnya pengembangan karakter mahasiswa melalui kegiatan ekstrakurikuler yang terstruktur dan berkelanjutan.
Latar Belakang Penyelenggaraan Acara
Inisiatif penyelenggaraan festival ini berasal dari kekhawatiran pihak akademik terhadap kesenjangan antara teori yang diajarkan di kelas dengan praktik kehidupan sosial mahasiswa. Mahasiswa Sosiologi memang diajarkan untuk memahami dinamika sosial masyarakat, namun terkadang pengalaman langsung dalam kegiatan sosial, olahraga, dan seni budaya masih terbatas.
“Kami melihat bahwa mahasiswa Sosiologi memiliki pengetahuan teoritis yang cukup mendalam tentang perilaku sosial manusia. Akan tetapi, mereka juga membutuhkan pengalaman praktis untuk memahami bagaimana nilai-nilai universal seperti disiplin, kerja sama, dan apresiasi budaya dapat diterapkan dalam kehidupan nyata,” jelas Dr. Bambang Sutrisno, Dekan Fakultas Sosiologi Universitas Mandala Waluya, dalam wawancara eksklusif pada Jumat (28 Maret 2026).
Menurut Dr. Sutrisno, festival ini merupakan bagian dari rencana strategis fakultas untuk mengintegrasikan kegiatan ekstrakurikuler ke dalam kurikulum dan pembelajaran mahasiswa. Universitas Mandala Waluya percaya bahwa pendidikan holistik bukan hanya mencakup aspek akademik, melainkan juga pengembangan kepribadian, keterampilan sosial, dan apresiasi budaya.
Rangkaian Kegiatan dan Pertandingan
Acara festival dibagi menjadi tiga kategori utama yang masing-masing menampilkan aspek berbeda dari pengembangan diri mahasiswa. Pertama adalah kategori olahraga yang mencakup sepak bola, bola voli, bulu tangkis, catur, dan estafet lari. Kedua adalah kategori seni dan budaya yang menampilkan tari tradisional Sulawesi, musik modern, teater, dan pameran seni visual. Ketiga adalah kategori inovasi sosial yang menampilkan program-program sosial yang telah dilakukan oleh berbagai organisasi mahasiswa.
Dalam kategori olahraga, pertandingan sepak bola menjadi sorotan utama dengan antusiasme tinggi dari para pemain dan penonton. Tim dari berbagai angkatan Fakultas Sosiologi saling bersaing dengan semangat tinggi, menampilkan permainan yang sportif dan penuh hiburan. Pertandingan final yang diselenggarakan pada hari ketiga festival berhasil menarik ribuan penonton, baik dari kalangan kampus maupun masyarakat luar.
“Saya sangat bangga dengan antusiasme mahasiswa kami dalam mengikuti kegiatan olahraga ini. Mereka tidak hanya bersaing dengan baik, tetapi juga menunjukkan sikap sportivitas yang luar biasa. Itu adalah bagian dari nilai-nilai yang ingin kami tanamkan kepada setiap mahasiswa Sosiologi,” ungkap Dr. Sutrisno dengan penuh apresiasi.
Adapun dalam kategori seni dan budaya, pertunjukan tari tradisional Sulawesi menjadi daya tarik utama. Mahasiswa Sosiologi yang banyak berasal dari Sulawesi Tenggara menampilkan tarian warisan budaya lokal dengan kostum tradisional yang memukau. Salah satunya adalah tari Dero-Dero, tarian tradisional khas Kendari yang jarang ditampilkan di acara-acara kampus modern.
“Kami ingin menunjukkan kepada rekan-rekan mahasiswa dari daerah lain bahwa budaya lokal kami memiliki nilai artistik dan filosofi yang dalam. Melalui festival ini, kami tidak hanya mempertahankan warisan budaya nenek moyang, tetapi juga memberikan edukasi kepada generasi muda tentang pentingnya apresiasi budaya lokal,” kata Siti Nurhaliza, mahasiswa tahun ketiga Sosiologi sekaligus koordinator pertunjukan seni tradisional.
Kategori inovasi sosial juga menampilkan berbagai program yang telah dilaksanakan oleh organisasi mahasiswa. Mulai dari program pemberdayaan masyarakat, pendidikan anak-anak kurang mampu, hingga program pelestarian lingkungan. Setiap organisasi menampilkan hasil karya dan dampak sosial yang telah mereka raih selama periode operasional mereka.
Pernyataan Pejabat Kampus dan Akademisi
Keterlibatan pejabat kampus dalam festival ini menunjukkan komitmen Universitas Mandala Waluya terhadap pengembangan holistik mahasiswa. Prof. Dr. Ir. Harun Simatupang, Rektor Universitas Mandala Waluya, hadir untuk membuka acara secara resmi dan memberikan sambutan yang inspiratif.
“Festival Olahraga dan Seni Budaya ini merupakan wujud nyata dari visi universitas untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian mahasiswa yang baik. Kami bangga melihat mahasiswa Fakultas Sosiologi menunjukkan dedikasi mereka melalui kegiatan-kegiatan yang bermakna ini,” kata Prof. Harun dalam sambutannya di hari pembukaan festival.
Lebih lanjut, Prof. Harun menekankan pentingnya keseimbangan antara kegiatan akademik dan ekstrakurikuler. Menurutnya, mahasiswa yang hanya fokus pada prestasi akademik tanpa pengalaman praktis dalam kehidupan sosial akan kesulitan ketika terjun ke masyarakat.
“Saya percaya bahwa olahraga dan seni budaya adalah sarana yang efektif untuk mengajarkan nilai-nilai universal seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan pemahaman terhadap keragaman. Melalui kegiatan-kegiatan ini, mahasiswa kami akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan yang kompleks,” tambah Prof. Harun.
Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni, Drs. Edy Wijaya, juga memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang diambil oleh Fakultas Sosiologi. Menurut Drs. Wijaya, festival ini menjadi contoh baik bagi fakultas-fakultas lain untuk mengintegrasikan kegiatan ekstrakurikuler dalam pengembangan akademik mahasiswa.
“Kami telah memberikan dukungan penuh kepada Fakultas Sosiologi dalam menyelenggarakan acara ini, dan hasilnya melebihi ekspektasi kami. Partisipasi mahasiswa yang tinggi, kualitas pertunjukan yang memukau, dan semangat kebersamaan yang ditampilkan menunjukkan bahwa mahasiswa kami memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan pengalaman praktis,” jelas Drs. Wijaya pada saat festival berlangsung.
Dampak dan Signifikansi Bagi Mahasiswa
Dampak positif dari penyelenggaraan festival ini tidak hanya terlihat dari antusiasme peserta, tetapi juga dari feedback yang diterima panitia. Banyak mahasiswa yang mengungkapkan bahwa festival ini memberikan mereka kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka di luar kelas akademik.
Ricky Firmansyah, mahasiswa tahun kedua Sosiologi yang menjadi kapten tim sepak bola Sosiologi, mengungkapkan pengalamannya mengikuti festival.
“Saya sudah bertahun-tahun memainkan sepak bola, tetapi kesempatan untuk berkompetisi di level kampus dengan persiapan yang matang membuat saya merasakan pengalaman yang berbeda. Selain itu, saya juga belajar banyak tentang kepemimpinan dan manajemen tim melalui persiapan festival ini,” ujar Ricky dengan antusias.
Lebih dari itu, festival ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami dinamika sosial secara praktis. Sebagai mahasiswa Sosiologi yang mempelajari teori-teori tentang perilaku sosial, mereka memiliki kesempatan langka untuk mengamati dan berpartisipasi dalam interaksi sosial yang kompleks.
“Ketika kami mempelajari Sosiologi di kelas, guru kami sering memberikan contoh-contoh dari kehidupan nyata. Namun, pengalaman langsung dalam festival ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam. Misalnya, saya bisa melihat bagaimana dinamika kelompok bekerja dalam tim sepak bola, bagaimana nilai-nilai budaya ditransmisikan melalui tari tradisional, dan bagaimana solidaritas sosial terbentuk dalam kegiatan-kegiatan kolaboratif,” jelas Nadia Pratama, mahasiswa tahun ketiga Sosiologi yang mengikuti beberapa cabang olahraga.
Festival ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan organisasi. Berbagai panitia yang dibentuk dari mahasiswa sendiri berhasil mengelola acara berskala besar dengan koordinasi yang baik.
Keberlanjutan dan Rencana Masa Depan
Mengingat kesuksesan festival ini, Fakultas Sosiologi telah merencanakan untuk menjadikan acara ini sebagai agenda tahunan yang berkelanjutan. Dr. Bambang Sutrisno menyebutkan bahwa festival tahun depan akan diperluas dengan menambahkan lebih banyak kategori lomba dan mengundang partisipasi dari universitas-universitas lain di Sulawesi Tenggara.
“Kami ingin menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan holistik mahasiswa secara berkelanjutan. Festival tahun ini adalah langkah awal yang baik, dan kami berencana untuk terus meningkatkan kualitas dan skala acara ini. Selain itu, kami juga akan mengintegrasikan hasil-hasil dari festival ini ke dalam kurikulum dan sistem penilaian akademik mahasiswa,” ungkap Dr. Sutrisno dengan penuh optimisme.
Rencana jangka panjang Fakultas Sosiologi juga mencakup pembentukan sentra-sentra kegiatan ekstrakurikuler yang lebih terstruktur dan profesional. Dengan dukungan dari universitas, mereka akan menyediakan fasilitas dan pembimbing khusus untuk berbagai bidang olahraga dan seni budaya.
Kesimpulan
Festival Olahraga dan Seni Budaya yang diselenggarakan oleh Fakultas Sosiologi Universitas Mandala Waluya pada akhir Maret 2026 ini merupakan bukti nyata dari komitmen institusi dalam menghadirkan pendidikan yang holistik dan berkelanjutan. Acara yang melibatkan lebih dari 800 peserta ini tidak hanya menampilkan prestasi mahasiswa dalam berbagai bidang, tetapi juga menunjukkan nilai-nilai universal yang diajarkan melalui olahraga dan seni budaya.
Melalui festival ini, mahasiswa Sosiologi mendapatkan kesempatan emas untuk menerapkan teori-teori yang mereka pelajari di kelas ke dalam praktik kehidupan nyata. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat ikatan sosial antar mahasiswa dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang kaya dan berharga.
Dengan rencana keberlanjutan yang telah ditetapkan oleh pihak akademik, festival ini diharapkan dapat menjadi tradisi positif yang akan terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan karakter dan keterampilan mahasiswa Universitas Mandala Waluya, khususnya Fakultas Sosiologi.
—
Ditulis oleh: Redaksi Kampus | Kendari, 31 Maret 2026